Satu masalah ini sering ditemui dilingkungan pesantren. Ketika jauh dari orang tua, terkadang kita bingung untuk membelanjakan uang. Takut kehabisan jika terlalu sering dibelanjakan.
Tidak seperti saat dirumah dulu, uang habis, kantong kempes, datang ke orang tua, kantong pun berisi lagi. Dipondok, aku dilatih untuk hemat, untuk sadar betapa susahnya cari uang.
Namun, itulah kita, sebagai mahluk yang bernafsu, terkadang kita lalai. Niat kita ingin berhemat, tapi saat melihat teman-teman kita beli jajan, kita pun terpancing dan ikut-ikutan. Kadang, aku juga melihat teman-temanku yang beli es diwarung depan sekolah, ahh, enaknya, sampai-sampai, aku menelan air liur sendiri.
Betapa susahnya masalah ini. Memang dibutuhkan kesabaran yang tinggi dan perlawanan yang kuat terhadap nafsu kita. Dan memang inilah tantangan. Hidup tidak akan berarti tanpa ada tantangan yang menghalang rintang. Dan yang pasti, semua tantangan itu tidak melebihi kemampuan kita. Dan hal itulah yang membuat semangat berhematku berkobar-kobar, menghanguskan nafsu-nafsuku akan materi yang menggiurkan.
Dan hasilnya, Alhamdulillah, luarbiasa, Dengan uang saku 50.000 untuk dua Minggu, aku selalu menyisakan lebih dari 50 %. Uang sisa tersebut, selalu kutabung setiap pulang kerumah, dan mungkin akan berguna ketika aku lulus nanti.

3 comments:
Belajar hidup hemat :)
Why not ....
Semangat....chaiyo...chaiyo
Hidup adalah perjuangan, belajar hemat bukan berarti pelit, tapi belajar bagaimana mengatur kebutuhan hidup dengan uang...terus semangat...gantungkan impianmu setinggi mungkin, raihlah kesuksesan dengan tekad "aku pasti bisa"
investasikan tabunganmu,bisa emas ato km jd anggota koprasi.uangmu akan bekerja untukmu, karna semakin muda kamu memulai investasi maka semakin cepat kamu menikmati hasilnya.tetep konsisten dg perjuanganmu,buah manisnya pasti bikin orang kepingin.he.he.
Post a Comment