Malang benar nasib mereka-mereka itu. Berangkat demo dengan tujuan BBM nggak jadi naik, pulang-pulang babak belur semua. Dihajar polisi, gas air mata, bentrok, ricuh. Toh BBM tetep naik.
Disini yang dapat kita ambil adalah, mengapa para pendemo tak gentar sedikitpun dengan bahaya yang mengancam nyawanya sendiri demi memperjuangkan harga BBM ? Mungkin itu karena mereka sudah terlalu muak dan jengkel kepada pemerintah yang tidak memindahkan amanah rakyat.
Ngomongnya diawal sih....merakyat, setelah terpilih, rakyat pun dibiarkan melarat. Dengan naiknya harga BBM, biaya hidup pun semakin tidak terjangkau. Embel-embel hasil kenaikan harga BBM nanti akan dijadikan BLSM. Demo pun semakin menjadi.
Nggak hanya pendemo, Wartawan dari sebuah surat kabar pun kena imbasnya. Saat meliput demo yang ricuh, ia tertembak dibagian pahanya. Ia pun langsung lari kerumah sakit. "Dilarikan" maksud saya. Mana mungkin paha tertembak bisa lari.
Ya begitulah nasib demo di Indonesia. Memiriskan.
Daripada gitu, mendingan dirumah, ngeblog, liat TV, tidur siang, liat bola. Daripada
ikut-ikutan unjukrasa yang berakhir petaka. Setidaknya seperti itulah
kata kakakku saat melihat berita. Meskipun aslinya menggunakan bahasa
Jawa dengan celetukan khas anak SMA. Sontak akupun tertawa mendengarnya.
Tuesday, June 18, 2013
Subscribe to:
Comments (Atom)

